'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
TANTANGAN JADIKAN PELUANG MAJU untuk generasi bangsa Oleh : Dra. Hj .Rachmi Aida, Mpd
30 Januari 2017 16:00 WIB | dibaca 799
oleh: Dra. Hj .Rachmi Aida, Mpd (Anggota Majelis Dikdasmen PWA Jatim)

TANTANGAN JADIKAN PELUANG MAJU untuk generasi bangsa

Oleh : Dra. Hj .Rachmi  Aida, Mpd

 

C:\Users\PLA BLITAR\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\WP_20161227_031.jpg

A  PENDAHULUAN

            Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki keunikan tersendiri yang membedakan mereka dari anak –anak  normal pada umumnya. Kondisi demikian  yang menuntut pemahaman terhadap  hakekat anak berkebutuhan khusus. Keragaman anak berkebutuhan khusus terkadang menyulitkan guru dalam upaya mengenali jenis dan bagaimana memberi pelayanan pendidikan yang sesuai,  hal ini bisa dilakukan bila guru memiliki pengetahuan  dan pemahaman mengenai hakikat anak berkebutuhan khusus, sehingga perlakuan untuk memenuhi kebutuhan anak yang sesuai akan lebih optimal.

            Anak kebutuhan khusus berupakan istilah baru  yang digunakan dan merupakan terjemahan dari Child with special needs yang digunakan secara luas didunia internasional, selain itu ditemukan beberapa istilah lain yang sering digunakan diantaranya anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang dan anak luar biasa atau satu istilah yang berkembang luas telah digunakan yaitu difabel atau kependekan dari kata diference ability. Sejalan dengan perkembangan pengakuan  terhadap hak asasi manusia terhadap anak ini ,maka digunakan istilah Anak berkebutuhan Khusus. Penggunaan istilah anak berbutuhan khusus membawa konsekuensi cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa. yang pernah dipergunakan .dan mungkin masih digunakan.  Jika pada istilah luas biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik ,mental,,emosi ,sosial )anak ,maka pada kebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak  untuk mencapai prestasinya. Misalnya seorang anak tunanetra jelas dia memiliki keterbatasan pada bidang penglihatan .tetapi dia memiliki sebuah potensi kemampuan intelektual yang tidak berbeda dengan anak normal .maka untuk dapat berprestasi sesuai kapasitasnya diperlukan alat bantu sebagai kompensasi indranya..

            Anak berkebutuhan khusus bisa dipahami dengan melihat adanya berbagai perbedaan bila dibandingkan dengan keadaan normal mulai dari keadaan fisik sampai mental dan dari anak cacat sampai anak berbakat intelektual .Pertama perbedaan interindividual yang berarti membandingkan keadaan individu dengan orang lain dalam berbagai hal diantaranya perbedaan mental diantaranya perbedaan keadaan mental (kapasitas intelektual ),kemampuan indra (sensory ),kemampuan gerak motorik kasar dan kemampuan komunikasi ,perilaku ,sosial dan keadaan fisik .Akhir –akhir ini ada perbedaan dalam pencapaian prestasi belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran halini dimungkinkan adanya standar kompetensi yang harus dimiliki siswa .Kedua perbedaan intraindividual yaitu suatu perbandingan antar  potensi  yg ada  dalam individu itu sendiri,perbedaan ini dapat muncul ini dapat muncul dari berbagai aspek meliputi  intelektual, fisik ,psikologis,dan sosial .sebagai ilustrasi ada seorang sisiwa yg memiliki prestasi belajar sangat cemerlang tetapi dia sangat tidak disukai oleh temannya karena sifatnya tertutup dan individualistis dan sulit diajak kerja sama .Maka hal ini dapat dibandingkan gambaran kemampuan intelektual dan kemampuan sosial siswa yang cukup signifikan sehingga siswa tsb memerlukan tretmen atau perilaku khusus agar potensinya dapat berkembang optimal .

B. Jenis  Anak Berkebutuhan khusus

       I.            Kelainan  mental terdiri  dari 

1.      . Mental  Tinggi

Sering disebut dengan anak berbakat intelektual,dimana selain memiliki kemampuan intelektual diatas rata- rata  normal yg memiliki signifikan juga memiliki kreatifitas dan tanggung jawab terhadap tugas .

2.      . Mental Rendah

Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektualnya (IQ) di    bawah rata rata  dapat dibagi  menjadi dua  kelompok  yaitu  anak lamban belajar (  slow  learners Yaitu anak yang memiliki IQ antara 70 – 90 ,sedangkan anak yang memiliki IQ  dibawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus .

3 . Berkesulitan Belajar  specifik

Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar( achivement )    yg diperoleh siswa .Anak berkesulitan belajar  specifik  adalah anak yang memiliki kapasitas intelektual normal ke atas  tetapi memiliki prestasi belajar rendah pada bidang akademik tertentu.

 

    II.            Kelainan fisik   meliputi

a.     Kelainan tubuh ( Tunadaksa )

b.    Kelainan indra penglihatan (Tunanetra )

c.     Kelainan Indra pendengaran (Tunarungu )

d.    Kelainan wicara

 

 III.            Kelainan Emosi

Yang termasuk dalamkelompok anak yang memiliki kelainan emosi adalah Autis. Autism adalah gangguan pada perkembangan otak anak yang mengganggu  kemampuan  berkomunikasinya dengan dunia luar secara effektif.Gejala  autis mulai terlihat saat anak masih balita .ciri ciri anak autism  adalah suka menghindar kontak mata ,suka menangis ,berbicara  dengan kalimat yang sama  mudah terobsesi terhadap sesuatu,tidak bisa bercanda atau tertawa ,tidak mempunyai rasa ingin tahu dan sulit bicara.

Sementara gangguan emosi merupakan gangguan masalah psikologis dan hanya dapat dilihat dari indikasi perilaku yang tampak pada individu ,dengan klasifikasi gangguan emosi meliputi:

a.       Gangguan Perilaku yaitu : mengganggu di kelas ,tidak sabaran-terlalu bereaksi ,tidak menghargai-menentang,menyalakan orang lain kecemasan terhadap prestasi di sekolah ,dependensi orang lain,pemahaman lemah ,reaksi yang tidak sesuai ,melamun ,tidak ada perhatian,menarik diri .

b.      Gangguan konsentrasi ADD (ATTENTION DEFICIT DISORDER ) atau lebih gejala inattension  berlangsung enam bulan ,ketidak mampuan untuk beadaptasi, tingkat perkembangan in konsisiten .gejala –gejala inattention ialah :sering gagal untuk memperhatikan secara detail atau sering membuat kesalahan  dalam pek.  sekolah  atau aktivitas lain.sering kesulitan untuk memperhatikan tugas tugas atau permainan ,sering tidak memperhatikan orang bicara,,sering tidak mengikuti instruksi ,kesukitan untuk menhkoordinir tugas tugas  ,sering beralih ke stimulus lain.

c.       Anak Hiperaktif  (ADHD ) Attention Deficit With Hyperaktivety Disorder,yaitu  perilaku  tidak bisa diam,ketidak mampuan untuk memberi perhatian yangvukup lama ,Hyperaktivitas ,aktivitas motorik tinggi , mudah buyarnya perhatian .canggung,infleksibelitas ,tpleransi rendah terhadap frustasi berbuat tanpa berpikir .

 

Perkembangan layanan pendidikan Anak berkebutuhan Khusus  tidak akan lepas dari peran dan peranan pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan layanan Pendidikan  menfasilitasi anak berkebutuhan khusus. Hambatan dan tantangan dalam membimbing anak berkebutuhan khusus  adalah sebuah wujud  dari hambatan yang dimiliki berkebutuhan khusus.Dan anak banyak memperoleh hambatan dalam memenuhi tuntutan lingkungan yang berdampak  pada kondisi sosial psikologi anak  yaitu dampak fisiologis ,dampak psikologis,dampak sosiologis .Dan ibu /keluarga yang mempunyai anak  mengalami trauma  sangat berat .Dampak keberkebutuhan khusus dari tiga demensi menyebabkan pengaruh yang cukup berarti dalam kehidupan mereka .Keterbatasan dan daya kemampuan yang mereka miliki menimbulkan berbagai masalah masalah  yang relatif berbeda- beda  walaupu ada kesamaan  yang dirasakan . Dampak disarakan mereka  meliputi :

a.       Masalah Kesulitan dalam kehidupan sehari hari .

b.      Masalah penyesuaiak diri

c.       Masalah penyaluran ketempat kerja

d.      Masalah kesulitan belajar

e.       Masalah gangguan kepribadian dan emosi

f.       Masalah pemanfaatan waktu luang

Landasan yuridis formal hak- hak anak berkebutuhan khusus  ,perlu dikembangkan keberadaannya sehingga apa cita cita UUD 1945 pasal 31 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan ,uu no20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional ,uuno23 th 2003 tentang perlindungan anak ,uu no 41997 tentang penyandang cacat,Deklarasi Bandung tentang inklusi  taggal 8-14 agustus 2004.

Dengan memperhatikan landasan yuridis dan dengan berbagai permasalahan yang ada maka ini adalah sebuah tantangan dan menjadi sebuah peluang utamanya bagi  PWA Aisyiyah Jawa Timur pada Majelis pendidikan dasar dan menengah untuk berbenah dan mempersiapkan lembaga lembaga aisyiyah dalam menyiapkan tenaga pendidikan yang mampu melaksanakan ketatalaksanaan anak berkebutuhan khusus. Dalam rangka menyiapkan telah dilaksanakan workshop secara berjenjang dalam dan melalui sebuah embrio untuk menjadi sesuatu yang besar .

Anak berkebutuhan khusus sering terlihat berbeda baik secara fisik maupun mental dan sosial emosional. Mereka memiliki karakteristik khusus yang mengakibatkan adanya penyesuaian-penyesuaian di berbagai bidang, agar mereka tetap mendapatkan haknya yang sama dengan anak lain dan bahkan penyesuaian tersebut harus dapat mengoptimalkan perkembangannya sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Penyesuaian yang dimaksud adalah penyesuaian lingkungan yang dapat mengakomodasi kebutuhan semua anak, penyesuaian kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan pendidik, penyesuaian kegiatan pembelajaran, penyesuaian sarana dan prasarana pembelajaran, dan penyesuaian teman-teman sebaya serta lingkungan masyarakat.

Pendidik anak usia dini di lembaga PAUD sebagai tangan kedua setelah orang tua di rumah, masih banyak yang mengalami kesulitan dalam mengenali anak berkebutuhan khusus dengan berbagai karakteristiknya, sehingga mengakibatkan sulitnya anak-anak bekebutuham khusus ini diterima di lembaga PAUD untuk belajar bersama dengan anak lain. Tentu ini sangat bertentangan dengan konsep Pendidikan untuk Semua dan konsep Pendidikan Sedini Mungkin

Perhatian terhadap anak berkebutuhan khusus sudah terjadi cukup lama dan pada abad 16 mulai terjadi perubahan sikap yang lebih positif terhadap masalah anak berkebutuhan khusus ini, seperti rumah sakit di Paris mulai menyediakan layanan bagi penderita gangguan emosinoal, mulai adanya manual abjad yang pertama bagi penyandang tuli. Dr. Maria Montessori membuat metode pembelajaran yang khusus bagi anak dengan keterbelakangan mental, Helen Keller yang seorang buta memberikan perhatian khusus pada penyandang cacat penglihatan, dan banyak lagi yang lainnya, yang mampu memberikan inspirasi banyak orang tentang bagaimana memberikan perhatian pada para penyandang cacat agar mereka dapat hidup sebagaimana layaknya orang lain

Penelitian terakhir membuktikan bahwa 1 dari 100 kelahiran terdapat anak dengan spektrum austima dengan tidak memandang latar belakang geografis, budaya, ekonomi keluarga, dan pendidikan orang tua atau garis keturunan. Hal-hal yang melatarbelakangi penyebab masih belum ditemukan, begitu juga dengan keragaman spektrum yang disandang sangat bersifat spesifik dan individual. Semua itu menuntut peningkatan pengetahuan dan wawasan pendidik anak usia dini serta ketrampilan mendeteksi dan menangani sedini mungkin. Oleh karena keunikan ini tidak dapat terdeteksi secara jelas sebagaimana kecacatan secara fisik, maka tentu saja memerlukan keterampilan khusus dalam mengobservasinya

 

 

Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan secara fisik, mental, dan kognitif pun sebetulnya banyak terdapat di berbagai negara, termasuk indonesia. Akan tetapi, karena kultur budaya masyarakat terutama yang hidup di pelosok daerah hars menyembunyikan anak-anak tersebut, hanya 'dipelihara' tanpa stimulasi edukasi. Kalaupun pemikiran masyarakat di pelosok desa sudah terbuka bahwa anak-anak tersebut harus mendapat pendidikan yang layak guna kelangsungan kemandirian kehidupan mereka, belum banyak lembaga pendidikan yang siap menerima kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus.

 

Kenyataannya mendidik anak itu bukanlah perkara yang gampang dan mudah, banyak kegagalan yang terjadi dengan tidak tercapainya tujuan pendidikan yang diinginkan. Kegagalan ini sering terjadi pada kegiatan pendidikan anak biasa (umum) dengan berbagai faktor yang melatar belakanginya. Jika mendidik anak biasa saja susah dan sering gagal, apa lagi menghadapi anak berkebutuhan khusus (dulu istilahnya anak luar biasa), dituntut kesabaran yang luar biasa untuk membantu anak ini dengan memberinya berbagai pendidikan dan latihan untuk membantu mereka agar mampu hidup mandiri, terutama dalam melakukan kegiatan rutin. Tujuan mendidik anak berkebutuhan khusus sama seperti anak normal lainnya, yaitu membentuk karakter, intelek, bakat dan akhlak, sehingga anak memiliki sikap dan perilaku yang berguna bagi kelangsungan hidupnya sesuai dengan harapan masyarakat. hanya saja kelancaran proses belajar terhalang oleh kondisi kondisi mereka yang khusus. Untuk mengatasi halangan ini, perlu di gali kelebihan atau kecakapan yang dimiliki, Misalnya anak yang buka tidak dapat menangkap pelajaran melalui penglihatan, tetapi mereka memiliki pendenganran yang peka. Kemampuan ini harus dilatih berfungsi secara maksimal menggantikan mata sehingga mereka dapat belajar maksimal

 

Mempersiapkan pendidikan Anak berkebutuhan khusus

 

Ciptakan lingkungan keluarga yang hangat, terbuka, komunikatif, sehingga anak merasa diterima oleh orang tua dan saudara-saudaranya

  • Sesering mungkin mengajak anak berdialog (tanya-jawab) untuk melatih kemampuan mengungkapkan keinginan atau pikirannya. 
  • Orangtua pun dapat lebih memahami anaknya. Mengetahui minat, kelebihan-kelebihannya, perasaan dan harapan mereka.
  • Perasaan aman penting bagi mereka untuk mereka (cenderung rendah diri) menumbuhkan rasa percaya diri yang mendorong maju dan besikap positif.
  • Dibutuhkan keteraturan dan kemantapan bentuk pelatihan agar anak mandiri.

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus adalah :

  1. Bersikap tegas tetapi tidak terlalu keras pada anak yang berkebutuhan khusus.
  2. Menerima kelemahan dan mengatasinya sedini mungkin dengan memberi banyak rangsangan pada kemampuan lain yang bisa difungsikan menjadi kekuatannya
  3. Sering memberikan kesempatan anak bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya untuk mengekspresikan perasaan maupun emosinya.
  4. Melatih gerak tubuh melalui permainan, percakapan drama dan lain-lain.
  5. Fokus pada tujuan untuk mencapai kesetaraan pengamatan, panca indra yang berfungsi dan ekspresi verbal atau fisik.
  6. Ajarkan anak peran dan tingkah laku yang diterima masyarakat, seperti tanggung jawab, mandiri, ramah.
  7. Ajarkan nilai-nilai kemanusiaan (tolong menolong, kejujuran, sportif, Toleransi) yang dapat dijadikan prinsip dalam dirinya untuk mengambil keputusan.
  8. Ajarkan anak menyelesaikan masalah.
  9. Orang tua jangan mudah menyerah atau bahkan kalau perlu memaksa diri sendiri atau anak untuk mencapai tujuan belajar dengan memberikan penjelasan dengan sabar sampai ia dapat memahaminya.
  10. Ajarkan anak terlibat dalam kegiatan sosial disekitarnya.

Aisyiyah adalah sebuah gerakan perempuan Muhammadiyah yang lahir hampir bersamaan dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Dalam kiprahnya hampir satu abad di Indonesia, Selain itu, ‘Aisyiyah juga memiliki amal usaha yang bergerak diberbagai bidang yaitu : pendidikan,

Peran dan Perkembangan

Setelah berdiri, 'Aisyiyah tumbuh dengan cepat. Sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, 'Aisyiyah kemudian tumbuh menjadi organisasi otonom yang berkembang ke seluruh penjuru tanah air

Pada tahun 1919, dua tahun setelah berdiri, 'Aisyiyah merintis pendidikan dini untuk anak-anak dengan nama FROBEL, yang merupakan Taman Kanan-Kanak pertama kali yang didirikan oleh bangsa Indonesia. Selanjutnya Taman kanak-kanak ini diseragamkan namanya menjadi TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal Dalam hal pergerakan kebangsaan, 'Aisyiyah juga termasuk organisasi yang turut memprakarsai dan membidani terbentuknya organisasi wanita pada tahun 1928. Dalam hal ini, 'Aisyiyah bersama dengan organisasi wanita lain bangkit berjuang untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan dan kebodohan. Badan federasi ini diberi nama Kongres Perempuan Indonesia yang sekarang menjadi KOWANI (Kongres Wanita Indonesia). Lewat federasi ini berbagai usaha dan bentuk perjuangan bangsa dapat dilakukan secara terpadu.

Dalam perkembangannya, gerakan 'Aisyiyah dari waktu ke waktu terus meningkatkan peran dan memperluas kerja dalam rangka peningkatan dan pemajuan harkat wanita Indonesia. Hasil yang sangat nyata adalah wujud amal usaha yang terdiri atas ribuan sekolah dari Taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, rumah sakit, balai bersalin, panti asuhan, panti jompo, rumah-rumah sosial, lembaga ekonomi dan lain-lain diberbagai tempat sebagai contoh di TK Aisyiyah Bustanul Alfal .

 

Dalam perkembangan dari waktu ke waktu gerakan Aisyiyah jawa Timur melalui amal usaha pendidikan  pada Majelis pendidikan berupayah mengembangkan sayapnya bergerak pada anak berkebutuhan khusus.Pada Tahun 2017 dengan memulai memberikan dasar dasar yang kuat pada penanganan  anak berkebutuhan khusus. bahwa setiap lembaga tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus .Melalui amal usaha Pendidikanlah Aisyiyah tersentak dan terbangun dengan sebuah tantangan membangun tras dan rasa pada guru guru TK Aisyyah untuk siap menerima tantangan dalam dunia layanan khusus pada anak anak bangsa yang luar biasa. . Dengan sebuah program yang saling menunjang untuk mewujudkan kemandirian anak adalah dengan sebuah pendekatan yang terintegrasi antar pendidikan ,psikologi dan kesehatan dan tidak kala pentingnya program parenting.Demi Aisyyah yang bermajuan Semoga Allah senantiasa meridlohi setiap langkah langkah demi untuk anak bangsa dan generasi masa depan .

Shared Post:
Arsip
Idea Terbaru
Berita Terbaru