'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
PPA LPPA Gelar Bedah Buku Feminisme
28 Juni 2019 09:11 WIB | dibaca 277

 

SURABAYA – Feminisme masih menjadi perbincangan hangat. Bahkan, feminisme yang selama ini identik dengan barat karena cikal bakal dari mereka. Namun, karena tidak banyak tahu sehingga menjadi pertentangan yang tajam bahkan hingga muncul kaum anti feminisme. Dari situlah, PPA LPPA menggelar acara bedah buku ‘Feminisme Muslim Indonesia’ di Aula Mas Mansyur Gedung Muhammadiyah Surabaya pada Kamis, 27 Juni 2019.

 

Penulis Buku Bedah Feminisme Muslim Indonesia, Alimatul Qibtiyah S. Ag. M. Si. PHD memberikan kupasan pada bukunya. Dasar tulisannya berbasis Ilmiah. Salah satu yang dikupas khususnya di Indoensia,  bahwa feminisme itu tidak hanya sebatas bagi kaum perempuan saja, tetapi melibatkan kaum laki-laki. Sedangkan, pada Islam sendiri feminisme yang didengungkan Barat, tidak utuh dan cenderung melawan kondrat. Ajaran Islam, feminisme di hadirkan lebih dari feminis, dengan dasar dalam Al-quran maupun hadist-hadist nabi.

 

“Intinya di Islam, feminisme merupakan pemahaman yang dengan tujuan baik laki-laki maupun perempuan yang membutuhkan keluarga yang bahagia mawaddah dan warohmah. Beda dengan pemahaman Barat Feminisme, di mana mereka mengakui laki-laki lebih feminim dari perempuan, berani menyalahi kodrat dan berani terhadap suami. Bukti laki-laki feminim bahwa dia menyanyangi istri, anak dan orang, dan seterusnya,” kupas Wakil Dosen III Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alimatul Qibtiyah S. Ag M. Si PHD.

Jadi, sambungnya, feminisme di Indonesia unik, mereka mau melahirkan, tidak menolak dari apa yang di berikan sebagai kodrat dari Tuhan. Dan tidak pernah ada ketika di salahi oleh seorang suami, meskipun peluang untuk membalas itu ada. Jadi mereka secara tidak langsung sudah memahami perannya.

 

Oleh karena itu dalam kontek menuju keluarga sakinah mawaddah waraohmah, tidak sekedar pemahaman saja, tetapi harus di dilakukan dan berempati terhadap permasalahan bersama. Jadi tidak menyerahkan semua beban tugas rumah tangga dipikulkan pada para perempuan, tetapi harus saling menyadari. Misal mereka kaum laki-laki harus ikut turun untuk mengambil tugas kaum perempuan misal memasak, menyapu atau cuci piring,  tidak perlu merasa risih dan itu semua juga melihat kondisi sehingga bisa bekerja sama. (julianto)

Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari